22 Jul 2016

Ini dia Kenapa Tangerang suka disebut “Benteng”

Bukan Tangerang - kalo kalian gak pernah dengar klo tangerang sering disebut sebagai “Benteng”. Apalagi bagi keturunan Tionghoa di Tangerang yang tinggalnya dekat Sungai Cisadane yang sering disebut sebagai cina benteng. Untuk menjawabnya perlu membuka catatan perjuangan. Gini nih tanggal 1 Juni 1660 dilaporkan bahwa Sultan Banten telah membuat wilayah besar di sebelah barat Untung Jawa dan untuk mengisi wilayah baru itu Sultan Banten telah mindahin warganya sebanyak 5.000-6.000 orang Menurut tulisan F. de Haan. (Banyak amat ya, udah kayak mw nonton atau transmigrasi awal di Indonesia mungkin)

Ini dia Kenapa Tangerang suka disebut  “Benteng”



Nah dalam catatan Dag Register tanggal 20 Desember 1668 diceritakan disitu Sultan Banten mengangkat Raden Sena Pati dan Kyai Demang sebagai penguasa wilayah tadi. Karena Sultan Banten curiga dengan mereka bahwa mereka akan merebut kerajaan Banten maka dipecat mereka, dicopot kali yaaa hihihi. Nah sebagai gantinya di angkat Pangeran Dipati lainnya. Ki demang yang dipecat merasa tidak terima dan sakit hati, trus dia mengadu domba antara Kerajaan Banten dengan VOC. Ia pun meninggal terbunuh di Kademangan.


Pada Catatan VOC selanjutnya di Dag Register tanggal 4 Maret 1680 di jelaskan penguasa tangera pada waktu itu Kyai Dipati Soera Dielaga. Suatu ketika berperang dengan Kerajaan Banten, Kyai Dipati Soera Dielaga memenangkan dan memukul mundur para tentara Banten. Atas keberhasilannya ia diberi gelar kerhormatan Raden Aria Suryamanggala,terus Pengeran Subraja diberi gelar Kyai Dipati Soetadilaga. Berlanjut dengan Raden Aria Soetadilaga diangkat jadi Bupati Tangerang pertama dengan wilayah kekuasaan antara Angke dan Cisadane bergelar Aria Soetadilaga I

Pada perjanjian yang di tandatangani tanggal 17 April 1684, wilayah Tangerang menjadi kekuasaan VOC. Kerajaan Banten tidak mempunyai hak campurtangan dalam mengatur tata pemerintahan di Tangerang. Ini nih bunyi salah satu pasalnya “Dan harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas-batas daerah kekuasaan yang sejak masa lalu telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah Selatan hingga utara sampai Laut Selatan. Bahwa semua tanah disepanjang Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati VOC.”

Sungai Cisadane

Arsip Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia tanggal 3 April 1705 ada rencana untuk merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bamboo (itu benteng pos apa gubuk? ^_^). Kemudian ada usul untuk mengganti dengan dinding permanen. Gubernur saat itu Jendral Zwaardeczon sangat menyetujui usulan itu, bahkan di perintahkan untuk membuat pagar tembok mengelilingi bangunan pos penjagaan. Dinding tersebut direncanakan punya ketebalan 20 kaki atau lebih. Akan ditempatkan 30 orang Eropa dibawah pimpinan seorang Vandrig (Peltu) dan 28 orang Makasar yang akan tinggal di luar benteng.

Jembatan Cisadane Tangerang

Benteng yang telah selesai dibangun personel untuk bertugas di pos menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitmal. Yang disebut orang hitam disini ialah orang-orang Makassar yang di rekut sebagai pasukan VOC. Keberadaan benteng ini kemudian menjadi basis VOC dalam menghadapi pemberontakan Banten. Orang-orang pribumu Tangerang pada waktu itu lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan “Benteng”. Nah sejak saat itu Tangerang yang kita bahas ini dan kita  cintai terkenal dengan sebutan Benteng. Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak terawat lagi, “…Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurusm, tak seorang pun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingannya.” Menurut Suprerintendant of Publik Bulding and Work tanggal 6 maret 1816.

dikutip dari intisari Wikipedia


EmoticonEmoticon